“Beri Aku Sayang, Pa, Ma, Kali Ini Aja.”


23 Juli 2009
Aku?
Siapa sih aku?!
Wanita periang dan anti masalah.

Benarkah?
Aku tertawa, terbahak-bahak,
hingga lupa diri, hanyut dalam keramaian

Tapi,
Tahukah kau apa yang selama ini aku simpan
Di balik mataku, hatiku, bahkan kegilaanku??

Pernahkah kau rasakan apa yang aku rasakan?
Kurasa tidak.

Aku memiliki sejuta kepedihan yang tak kian padam.
Setiap waktu, selalu bergejolak,
Hingga aku tak tahan merasakan.

PEDIHH! PERIIHH!!

Bayangkan!
Kulitmu yang cantik diiris dengan sebilah pisau yang tajam.
Tersayat-sayat, tergoles dalam, hingga perih menyusup hati...

Dan bayangkanlah!
Kulitmu yang camtik itu disobek kasar,
Dicabik-cabik, bahkan dikelupas paksa
dari ujung kepala sampai ujung kaki...

Rasakan perih dan sakit yang luar biasa!!

Rasakanlah!
Kulitmu yang terkelupas itu
disiram air garam yang sangat panas
hingga melepuh...

Itulah yang aku rasakan dari dulu
Hingga sekarang.

Thanks diary,

The worst people in the world


Yah, hari itu diakhiri Nindia dengan sakit hati yang mendalam. Entah kenapa, hari itu Nindia merasa itu adalah hari terburuk, terburuk, dan yang paling buruk seumur hidupnya.
Nindia adalah anak kelas dua SMP yang paling garang sekelasnya, begitulah kalau teman-teman memanggilnya. Dia anak yang paling ditakuti sekelasnya, sampai sekarang pun tidak ada yang mau mendekatinya bahkan berteman dengannya, takut kalau nanti kenapa-napa. Selama ini temannya, ya, cuma buku diary yang diberi oleh mendiang neneknya ketika ia masih berumur 10 tahun.
Papa dan mama Nindia jarang banget kelihaan di rumah. Paling-paling pulang ke rumah cuma buat beres-bers baju, masukin ke dalam koper terus pergi lagi. Dua minggu, tiga minggu, bahkan pernah hampir dua bulan. Nindia pernah mencoba bertanya pada pembantu yang mengurusnya, “Bi, kenapa, ya, mama sama papa nggak pernah ada di rumah?” tapi jawaban bibi cuma, “Mereka lagi ada tugas luar kota, non,”. Nindia pasrah aja dengan jawaban-jawaban itu.
Karena mama papanya jarang ada di rumah, kasih sayang dan perhatian cuma bisa didapet dari neneknya, si bibi pembantunya, dan sang supir, tapi itu dulu. Sekarang Cuma bibi dan supir yang ada buatnya. Walaupun ada mereka berdua, Nindia masih kekurangan kasih sayang. Sering kali dia mengigau kangen sama mama papanya, dan bibi yang menangkannya. Nindia menjadi anak tergarang karena kesepian sehingga melampiaskannya dalam kemarahan.
KRIIIIIIIIING... KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGG... KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGG...
            Alarm bangun pagi Nindia berdering. Langsung dia cepat-cepat bangun  dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk sekolah. Kali ini bibi memasakkan makanan kesukaannya : roti bakar + telur panggang + saus tomat + susu. Supir sedang memandikan “kereta kudanya” untuk mengantar Sang Putri Nindia sampai ke sekolah.
            Seperti biasa, Nindia yang paling awal sampai sekolah. Masuk ke dalam kelas, naruh tas, nge-cek PR, kalo udah oke, keluar ke teras kelasnya yang mirip balkon (kerana ada di lantai 2) lalu memojok sendirian di sana dari jam setengah tujuh sampai jam tujuh waktu pelajaran dimulai. Meskipun garang, Nindia termasuk anak yang displin. Tidak pernah terlambat, baju selalu rapi, sepatu selalu disemir, dan, yah, pokoknya disiplin.
            Pelajaran pertama usai, sekarang pelajaran kedua, pelajaran matematika. Semua anak seangkatannya bilang kalau gurunya itu super killer, tapi, pelajaran itu tetap pelajaran yang paling disukai Nindia. Karena gurunya super killer, banyak anak yang sering ngerjain gurunya untuk membuat sang guru jera mengajar, tapi nggak bisa juga karena selalu dibela Nindia.
            Suatu hari,
            “AAAAAAAAAAAA......!!!!!!!” teriak Bu Dina, guru matematika. Semua murid ketawa cekikikan.
            “K...kkk....kkod...oooookkk!! AAAAAAA!!!” teriak Bu Dina lagi. Buru-buru Nindia mendatangi meja gurunya. Murid-murid mulai ada yang terbahak-bahak.
            “WOY! APA INI??! APA INI??!!!!” kata Nindia mebentak teman-temannya sambil memegang bangkai kodok yang diambil dari laci Bu Dina. Sunyi senyap suasana kelas. Meringkuk mendengar suara “petir” yang menggelegar.
            “Hahahahaha... hahahaha....” Nindia tertawa. Wajah-wajah temannya yang megigil lambat laun berubah.
“Kalian tau apa ini?!! Siapa yang taruh ini di sini?! Di laci, siapa yang taruh?!! Siapa ?! Jawab!” bentak Nindia lagi. Yang dikira teman-temannya Nindia hanya berpura-pura marah, tapi ternyata tawa tadi untuk menyindir teman-temannya. Yah, dan akhirnya selalu sama, pasti ketahuan siapa yang menjahili Bu Dina dan selalu hukuman favoritnya : berdiri di lapangan dengan satu kaki sampai pulang sekolah.
            TENGGG... TEENGG... TENGGG... TEENGGGG...
            Bunyi bel pulang sekolah Nindia. Ada yang langsung pulang, ada yang menunggu jemputan, ada yang main basket dulu, ada yang ngobrol dulu, d.l.l. Nindia sendiri sedang menunggu jemputan, sendirian, hanya ditemani buku notesnya.
            “Hai!” tiba-tiba Aldi, sang ketua kelas menghampiri Nindia. Nindia tidak menjawab, hanya diam. Khirnya Aldi lagi yang bicara,
            “Mmm... itu buku apa?”
            “Notes,”
            “Ohh,” obrolan mereka berlanjut dengan Aldi yang selalu memulai pembicaraan, sampai tiba-tiba Aldi ngomong,
            “Nin, kalo aku mau bilang something boleh?”
            “Silakan,”
            “Kalo seandainya kamu udah ngambil hatiku dan itu terjadi beneran gimana??”
            “Maksudmu?”
            “Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?”
Tapi, belum sempat Nindia menjawab, supir kesayangannya sudah datang. Buru-buru Aldi bilang ke Nindia,
            “Aku tunggu jawabannya besok ya?”
Nindia hanya menengok sebentar ke Aldi setelah itu langsung ke mobil.


... Bersambuuungg

NB : 1. Cerpen bersambung ini akan diterbitkan di buku berjudul Pendekar Pena 
       2. Diary 'Nindia' dikutip dari catatan di facebook teman

Komentar